Selasa, 13 Desember 2016

Materi IBM



1.      Bagaimanakah hubungan keterampilan membaca dan keterampilan menulis ?
Jawab :
Menulis adalah kegiatan berbahasa yang bersifat produktif, sedangkan membaca adalah kegiatan yang bersifat reseptif. Seorang penulis menyampaikan gagasan, perasaan, atau informasi dalam bentuk tulisan. Sebaliknya seorang pembaca mencoba memahami gagsan, perasaan atau informasi yang disajikan dalam bentuk tulisan tersebut.
Membaca adalah suatu proses kegiatan yang ditempuh oleh pembaca yang mengarah pada tujuan melalui tahap-tahap tertentu (Burns, 1985). Proses tersebut berupa penyandian kembali dan penafsiran sandi. Kegiatan dimulai dari mengenali huruf, kata, ungkapan, frasa, kalimat, dan wacana, serta menghubungkannya dengan bunyi dan maknanya (Anderson, 1986). Lebih dari itu, pembaca menghubungkannya dengan kemungkinan maksud penulis berdasarkan pengalamannya (Ulit, 1995). Sejalan dengan hal tersebut, Kridalaksana (1993) menyatakan bahwa membaca adalah keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambing-lambang grafis dan perubahannya menjadi bicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengajaran keras-keras. Kegiatan membaca dapat bersuara nyaring dan dapat pula tidak bersuara.
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambing-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambing-lambang grafis tersebut (Bryne, 1983). Lebih lanjut Bryne menyatakan bahwa mengarang pada hakikatnya bukan sekedar menulis symbol-simbol grafis sehingga berbentuk kata, dan kata-kata tersusun menjadi kalimat menurut peraturan tertentu, akan tetapi mengarang adalah menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap, dan jelas sehingga buah pikiran tersebut dapat dikomunikasikan kepada pembaca.
2.      Apa yang anda ketahui tentang konsep menulis? Tahapan apa saja yang harus dilakukan dalam menulis?
Jawab :

Konsep menulis.

Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambing-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambing-lambang grafis tersebut (Bryne, 1983). Lebih lanjut Bryne menyatakan bahwa mengarang pada hakikatnya bukan sekedar menulis symbol-simbol grafis sehingga berbentuk kata, dan kata-kata tersusun menjadi kalimat menurut peraturan tertentu, akan tetapi mengarang adalah menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap, dan jelas sehingga buah pikiran tersebut dapat dikomunikasikan
http://fusliyanto.wordpress.com/2009/10/12/keterampilan-berbahasa/

Tahap-tahap menulis.
·         Pra penulisan.

                        Pramenulis merupakan tahap persiapan. Pada tahap ini seorang penulis melakukan berbagai kegiatan, misalnya menemukan ide/gagasan, menentukan judul karangan, menentukan tujuan, memilih bentuk atau jenis tulisan, membuat kerangka dan mengumpulkan bahan-bahan.
Ide tulisan dapat bersumber dari pengalaman, observasi, bahan bacaan, dan imajinasi. Oleh karena itu, pada tahap pramenulis diperlukan stimulus untuk merangsang munculnya respon yang berupa idea tau gagasan. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas, misalnya membaca buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain.
                        Penentuan tujuan menulis erat kaitannya dengan pemilihan bentuk karangan. Karangan yang bertujuan menjelaskan sesuatu dapat ditulis dalam bentuk karangan eksposisi; karangan yang bertujuan membuktikan, meyakinkan, dan membujuk dapat disusun dalam bentuk argumentasi dan persuasi. Karangan yang bertujuan melukiskan sesuatu dapat ditulis dalam bentuk karangan deskripsi. Di samping seorang penulis dapat memilih bentuk prosa, puisi, atau drama untuk mengkomunikasikan gagasannya
·         Tahap penulisan

                                    Tahap menulis dimulai dari menjabarkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan. Ide-ide dituangkan dalam bentuk satu karangan yang utuh. Pada tahap ini diperlukan berbagai pengetahuan kebahasaan dan teknik penulisan. Pengetahuan kebahasaan digunakan untuk pemilihan kata, penentuan gaya bahasa, dan pembentukan kalimat. Sedangkan teknik penulisan diterapkan dalam penyusunan paragraf sampai dengan penyusunan karangan secara utuh.

·         Tahap merevisi.
                        Pada tahap merivisi dilakukan koreksi terhadap keseluruhan paragraf dalam tulisan. Koreksi harus dilakukan terhadap berbagai aspek, misalnya struktur karangan dan kebahasaan. Struktur karangan meliputi penataan ide pokok dan ide penjelas serta sistematika penalarannya. Sementara itu aspek kebahasaan meliputi pemilihan kata, struktur bahasa, ejaan dan tanda baca.

·         Tahap mengedit.
                         Apabila karangan sudah dianggap sempurna, penulis tinggal melaksanakan tahap pengeditan. Dalam pengeditan ini diperlukan format baku yang akan menjadi acuan, misalnya ukuran kertas, bentuk tulisan, dan pengaturan spasi. Proses pengeditan dapat diperluas dan disempurnakan dengan penyediaan gambar atau ilustrasi. Hal itu dimaksudkan agar tulisan itu menarik dan lebih mudah dipahami.

·          Tahap mempublikasikan.
                        Mempublikasikan mempunyai dua pengertian. Pengertian pertama, berarti menyampaikan karangan kepada public dalam bentuk cetakan, sedangkan pengertian yang kedua disampaikan dalam bentuk noncetakan. Penyampaian noncetakan dapat dilakukan dengan pementasan, penceritaan, peragaan dan sebagainya.

3.      Jelaskan satuan bentuk bahasa dimulai dari terkecil yaitu fonem sampai  ( wacana ) ?
Jawab :
·         Fonem yaitu, satuan bunyi bahasa atau ujaran terkecil yang bersifat fungsional.
Ar, Hasnah Faizah. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia. Pekanbaru : Cendikia Insani.

·         Morfem yaitu, satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna dan tidak dapat di bagi menjadi lebih kecil.
Morfem terbagi 2 yaitu, morfem bebas yaitu, morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan misalnya, pulang, makan, dan rumah. Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat mucul dalam pertuturan misalnya,  semua afiks dalam bahasa indonesia adalah morfem terikat.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.

·         Kata yaitu, deretan   huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta :  Rineka Cipta.

·         Frasa yaitu, satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Misalnya, meja baru, dan rumah mewah.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.

·         Klausa yaitu, satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.

·         Kalimat yaitu, satuan yang langsung digunakan dalam berbahasa, makna para tata bahasawan tradisional biasanya membuat definisi kalimat dengan mengaitkan peranan kalimat itu sebagai alat interaksi dan kelengkapan pesan atau isi yang akan disampaikan. Oleh karena itu, definisi seperti “ kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisikan pikiran yang lengkap” merupakan definisi umum yang biasa kita jumpai. Dalam kalimat harus ada intonasi final. Intonasi final ada 3 yaitu : titik, tanda seru, dan tanda tanya.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.

·         Kata yaitu,  satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Sebagai satuan bahasa yang lengkap, maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca ( dalam wacana tulis ) atau pendengar ( dalam wacana lisan ), tanpa keraguan apapun. Sebagai satuan gramatikal terbesar, berarti wacana itu dibentuk dari kalimat atau kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal, dan persyaratan kewacanaan lainnya.
Chaer, Abdul. 2007. Lingustik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.

4.      Jelaskan fungsi kutipan dan catatan kaki dalam sebuah karya ilmiah ?
Jawab :
Fungsi kutipan
·         Memperkuat argumen penulis.
·         Untuk penjelasan suatu uraian.
·         Bahan bukti untuk menunjang bahan yang kita sampaikan.
( dari penjelasan dosen menulis lanjut, Hermaliza, M.Pd. )
dari Http:// Lecturer.ukdw.ac.id/othe/citation, pdf.
Bahwa fungsi kutipan dalam karya ilmiah adalah menegaskan isi uraian atau membuktikan kebenaran yang diajukan oleh penulis berdasarkan bukti-bukti yamg diperoleh dari literatur, pendapat seseorang atau pakar, bahkan pengalaman empiris

Fungsi catatan kaki
·         Sebagai pemenuhan kode etik yang berlaku, sebagai penghargaan karya orang lain.
·         Pendukung keabsahan/ pernyataan penulis yang tercantum didalam teks/ sebagai penunjuk sumber.
·         Tempat memperluas pembahasan yang diperlukan tetapi tidak relevan jika dimasukkan di dalam teks, penjelasan ini dapat berupa kutipan.
·         Referensi silang, yaitu petunjuk yang menyatakan pada bagian mana/ halaman berapa hal yang sama dibahas dalam tulisan tersebut.
Sumber : Google

5.      Buatlah dua paragraf dengan tema kebersihan lingkungan kampus, mahasiswa dan masa depan bangsa, sikap dan perilaku mahasiswa terhadap dosen. ( pilih salah satu. )
Jawab :
SIKAP DAN PERILAKU MAHASISWA TERHADAP DOSEN


Mahasiswa pastinya memiliki hak dalam menilai sikap dan tingkah laku setiap dosennya. Mahasiswa kebanyakkan sangat menyenangi dosen yang baik, ramah, berwibawa, dan dalam menyampaikan mata kuliah bisa membedakan mana pada waktunya belajar  dan mana waktunya bercanda. Pada saat belajar pastinya semua memperhatikan dan serius, agar pembelajaran itu tidak membosankan bagi peserta didiknya/ mahasiswanya maka dosen harus bisa membuat suatu cerita lucu sehingga para mahasiswanya tertawa.
Jadi, Sikap dan perilaku mahasiswa itu didasarkan juga dari bagaimana cara dosen tersebut mengajar, apakah membosankan, menyenangkan dan lain sebagainya. Oleh karena itu apabila seorang dosen ingin dihargai dan disenangi oleh setiap mahasiswanya maka dosen tersebut harus bisa membuat mata kuliah itu menyenangkan dengan berbagai cara apa pun yang disenangi oleh mahasiswa tersebut. Apakah dengan cara penilaian atau pun yang lainnya yang dosen tersebut harus terima sebagai bahan untuk merubah sesuatu dari yang kurang disukai oleh mahasiswa  tersebut.

6.      Perbaikilah penulisan daftar pustaka ( bibliografi ) berikut ini ! kemudian susunlah berdasarkan urutan yang tepat !
A.    Drs. Daeng Nurjamal M.Pd dan Drs. Warta Sumirat .M.A. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Bandung. 2008. Alfabeta.
Jawab : Nurjamal, Daeng dan Warta Sumirat. 2008. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Bandung : Alfabeta.

B.     Riau Pos. Budi Santoso. 2012. Riau dilanda Banjir. 24 Desember : Hlm 5.
Jawab : Santoso, Budi. 2012. Riau dilanda Banjir. Riau Pos. 24 Desember. Hlm 5.

C.     Jos Daniel Parera. Diterjemahkan oleh Rudi Perdana. 2011. Graha Ilmu : Jakarta. Fungsi dan Kedudukkan Bahasa.
Jawab : Parera, Jos Daniel. 2011. Fungsi Kedudukkan Bahasa Indonesia. Diterjemahkan oleh Rudi Perdana. Jakarta : Graha Ilmu.

D.    Joko Rindo Purnomo S.Pd. Penggunaan Unsur Serapan dalam Tajuk Rencana Surat Kabar Riau Pos. Skripsi Sarjana. Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia : universitas Riau. 2008.
Jawab : Purnomo, Joko Rindo. 2008. Penggunaan Unsur Serapan dalam Tajuk Rencana – Sutar Kabar Riau Pos. Skripsi Sarjana. Program Studi Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia : Universitas Riau.

E.     Heri Susanto. Http://abstrak.digilid.upi.edu. 29 November 2011.2010. Bahasa dan Budaya.
Jawab : Susanto, Heri. 2010. Bahasa dan Budaya. http://abstrak.digilid.upi.edu. 29 November 2011.

F Masnur Muslich, dan Marsono. Jakarta : Bumi Aksara. 2011. Fonologi Bahasa Indonesia.
Jawab : Muslich, Masnur dan Marsono. 2011. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.










Tugas Profesi Kependidikan


TUGAS MANDIRI III

1.      Mengapa guru harus mengenal muridnya?
2.      Mengapa guru perlu membuat rencana pembelajaran (rp)?
3.      Mengapa guru harus mengadakan penilaian?
4.      Bagaimana menurut anda, jika guru mengajar tidak memakai rencana pembelajaran?
5.       Bagaimana menurut anda jika guru yang tidak menilai pr siswanya hanya memaafkan saja?


Jawab

1.      Guru harus mengenal muridnya, karena jika seorang guru tidak mengenal muridnya maka guru tersebut tidak akan mengetahui bagaimana gaya belajar murid tersebut, serta guru tersebut tidak akan dapat mengukur sejauh mana tingkat kemampuan siswa tersebut. Selain itu, guru yang tidak mengenal muridnya tidak akan disukai oleh muridnya dan murid tersebut cenderung bersikap acuh tak acuh pada guru tersebut.

2.                  Karena, jika gru tidak membuat rencana pembelajaran, guru tersebut akan kewalahan dan tidaka tau materi apa yang akan disampaikan kepada siswanya. Sebaliknya jika gruru tersebut membuat rencana pembelajaran guru tersebut akan bersikap tenang dan guru tersebut mengetahui materi apa yang akan disampaikan kepada muridnya, oleh karena itu rencana pembelajaran perlu dibuat oleh guru untuk menunjang dalam proses kegiatan belajar-mengajar dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

3.      Guru harus mengadakan penilaian, karena setiap kemampuan siswa pastinya berbeda, antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Penilaian yang dilakukan oleh guru tersebut dapat membantunya untuk mengukur sejauh mana tingkat kemampuan setiap siswanya. Selain itu, penilaian yang diadakan tersebut dapat juga membantu guru tersebut dalam mengetahui gaya belajar setiap siswanya.

4.      Menurut saya, jika guru mengajar tidak memakai rencana pembelajaran grur tersebut akan kewalahan dan binggung karena tidak menegtahui materi apa yang akan disampaikan kepada muridnya. Seorang guru yang mengajar dengan tidak mepersiapkan rencana pembelajaran tersebut akan mengalami kesulitan dalam penyampaian bahan ajar, sehingga proses belajar-mengajar tidak akan berjalan dengan lancar dalam mencapai tujuannya.

5.      Menurut saya, seorang guru yang tidak menilai pr siswanya tidak akan bisa dimaafkan begitu saja, karena setiap muridnya pasti ingin mengetahui hasil dari pr  yang dibuat oleh murid tersebut. Mereka juga ingin mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan yang mereka miliki. Oleh karena itu, seorang gruru yang tidak menilai pr siswanya itu harus dkritik dan diberi saran oleh muridnya, agar guru tersebut tidak memiliki sikap pemalas dan acuh tak acuh terhadap pr siswanya tersebut. Kerena salah satu faktor keberhasilan siswa tersebut tergantung pada pendididk atau tenaga pengajar itu sendiri.

Tugas-tugas profesi kependidikan


TUGAS MANDIRI II

1.      Sebutkan 10 kompetensi guru ?
2.      Apa kepanjangan LPTK ?
3.      Apa yang disebut pendekatan institusional ?
4.      Apa yang disebut pendekatan karakteristik ?
5.      Apa yang disebut pendekatan legistik dan sebutkan tahap legalistis menurut M. Fredmen ?
6.      Bagaimana cara melihat kemampuan profesional guru ?
7.      Masalah apa yang dihadapi saat ini dalam mengelola pendidikan ?
8.      Sebutkan dasar bakti guru, sesuai tuntutan pancasila,UUD 1945, dan proklamasi?
9.      Sebutkan 3 pendekatan menurut L.D Lansbury ?
10.  Sebutkan 5 langkah menurut M.L Wilensky untuk mencapai profesional ?
11.  Apa saja yang termasuk sifat/ karakteristik profesi, berikan contoh !
12.    Apa perbedaan tenaga profesional, semi profesional, dan paraprofesional ?



JAWAB

1.      10 Kompetensi guru yaitu:
·       Mengembangkan  kepribadian.
·       Menguasai landasan kependidikan.
·       Menguasai bahan pengajaran.
·       Menyusun program pengajaran.
·       Melaksanakan program pengajaran.
·       Menilai hasil dan proses belajar-mengajar.
·       Menyelenggarakan program bimbingan .
·       Menyelenggarakan administrasi sekolah.
·       Kerjasama dengan sejawat dan masyarakat.
·       Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.

2.      Kepanjangan LPTK, yaitu lembaga pendidikan tenaga kependidikan .
3.      Pendekatan institusional yaitu, memandang profesi dari segi proses institusional atau perkembangan asosional.
4.      Pendekatan karakteristik yaitu, memandang bahwa profesi mempunyai seperangkat elemen inti yang membedakannya dari pekerjaan lain.
5.      Pendekatan legalistik yaitu, pendekatan yang menekankan adanya pengakuan atas suatu profesi oleh negara/pemerintah.
tahap-tahap legalistiknya
·         Registrasi.
·         Sertifikasi.
·         Lisensi.
6.      Kemampuan profesional guru dapat dilihat dari 2 perspektif yaitu :
·         Dilihat dari tingkat pendidikan minimal dari latar belakang pendidikan untuk jenjang sekolah tempat dia menjadi guru.
·         Penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola proses pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas-tugas bimbingan, dan lain-lain.
7.      Masalah dalam pengelolaan tenaga pendidikan di indonesia saat ini tidak hanya semata-mata terletak pada cara menghasilkan tenaga kependidikan yang bermtu melalui lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) melainkan sejauh mana profesi itu dapat diakui negara sebagai profesi yang sesungguhnya.
8.      Dasar bakti guru sesuai tuntutan UUD 1945, pancasila, dan proklamasi yaitu :
·         Guru berbakti membimbing pesrta didik untuk membentuk manusia indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila.
·         Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.
·         Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
·         Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar.
·         Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
·         Guru secara pribadi dan bersama-sama menegmbangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesionalnya.
·         Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.
·         Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
·         Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
9.      3 Pendekatan menurut R.D Lansbury yaitu :
·         Pendekatan karakteristik.
·         Pendekatan institusional.
·         Pendekatan legalistik.
10.   5 langkah untuk mencapai profesional menurut H.L Wilensky yaitu :
·         Memunculkan suatu pekerjaan yang penuh waktu atau full time.
·         Menetapkan sekolah sebagai tempat menjalani proses pendidikan atau pelatihan.
·         Mendirikan asosiasi profesi.
·         Melakukan agitasi secara politis untuk memperjuangkan adanya perlindungan hukum terhadap asosiasi atau perhimpunan tersebut.
·         Mengadopsi secara formal kode etik yang ditetapkan.
11.   Sifat/ karakteristik profesi yaitu :
·         Kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pendidikan
Contoh : jenjang pendidikan tinggi dan pelatihan-pelatihan khusus berkaitan dengan keilmuan.
·         Memiliki pengetahuan spesialisasi, contoh : guru bidang studi Bahasa Indonesia.
·         Memiliki pengetahuan praktis yang dapat digunakan langsung oleh orang lain/klise. Contoh : dokter umum, berbeda pengetahuan teoritis dan pengalaman praktisnya dengan dokter spesialis.
·         Memiliki teknik kerja yang dapat dikomunikasikan atau communicable. Contoh : seorang guru harus mampu berkomunikasi sebagai guru, dan apa yang disampaikannya dapat dipahami oleh peserta didik.
·         Memiliki kapasitas menorganisasikan kerja secara mandiri atau self-organization. Conth : pekerjaan yang dilakukan secara sendiri tanpa bantuan orang lain.
·         Mementingkan kepentingan orang lain (aitruism.) contoh : dalam dunia kedokteran, seorang dokter harus siap memberikan  bantuan, baik dalam keadaan normal, emergensi, maupun kebetulan, bahkan saat dia sedang istirahat sekalipun.
·         Memiliki kode etik. Contoh : kode etik PGRI.
·         Memiliki sanksi dan tanggung jawab komunita. Contoh : ketika bekerja, guru harus memiliki tanggung jawab kepada komunita, terutama anak didiknya.
·         Mempunyai sistem upah. Contoh : dalam dunia kedokteran, sistem upah dapat diberi makna sebagai tarif yang ditetapkan dan harus dibayar oleh orang-orang yang menerima jasa layanan darinya. Contoh : berupa penggunaan simbol-simbol yang berbeda.
12.  Perbedaan tenaga profesional, tenaga semi profesional, dan tenaga paraprofesional yaitu :
·         tenaga profesional yaitu, tenaga kependidikan yang berkualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya S1 (atau yang setara )
·         tenaga semiprofesional yaitu, tenaga kependidikan yang berkualifikasi tenaga kependidikan D3 (atau yang setara.)
·         tenaga paraprofesional yaitu, tenaga kependidikan yang berkualifikasi pendidikan tenaga kependidikan D2 ke bawah, yang memerlukan pembinaan dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengendalian pendidikan/pengajaran.

Mengapa Guru harus Profesional


 TUGAS MANDIRI I

MENGAPA GURU HARUS PROFESIONAL

1.      Menurut UUD sistem pendidikan nasional bab IX pasal 39 ayat 2 yaitu :
Guru harus profesional karena, guru harus mewujudkan keadaan dinamis ini pendidikan guru harus mampu membekali kamampuan kreatifitas, rasionalitas, keterlatihan memecahkan masalah, dan kematangan emosinya. Semua bekal ini dimaksudkan untuk mewujudkan guru yang berkualitas sebagai tenaga profesional yang sukses dalam menjalankan tugasnya.


2.      Menurut pasal 40 ayat 2 yaitu:
Guru harus profesional karena
·         Guru harus menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.
·         Guru harus mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan dan
·         Guru harus memberikan teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.


3.      Menurut WF Connell ( 1972 )
Guru harus profesional karena
·         Peran guru sebagai pendidik ( nurturer ) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan ( supporter ), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan ( supervisor ) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain. Moralitas tanggung jawab kemasyaratan, pengetahuan dan keterampilan dasar persiapan. Untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
·         Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai-nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.
·         Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan niali-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai penegtahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk menegmbangkan kemampuannya lebih lanjut.
·         Peran guru sebagai pelajar ( leamer ). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya tidak ketinggalan jaman. Penegtahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.
·         Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan resmi maupun pertemuan insidental.
·         Peranan guru sebagai  komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasai.
·         Guru sebagai administrator. Seorang  guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu di administrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan  seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang beharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

4.      Menurut jurnal Education Leardship 1993
Mengapa guru harus profesional

·         Karena guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya.
·         Karena guru harus menguasai secara mendalam bahan/ mata pelajaran yang diajarkan serta cara mengajarnya pada siswa.
·         Karena guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi.
·         Guru harus mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya.
·         Karena guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.

5.      Menurut Freire
Mengapa guru harus profesional

·         Karena guru yang mengajar, murid yang diajar.
·         Karena guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa
·         Karena guru berpikir, murid memikirkan
·         Karena guru bercerita, murid patuh mendengarkan
·         Karena guru menentukan peraturan, murid diatur
·         Karena guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujuinya.
·         Karena guru berbuat,murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya.
·         Karena guru memiliki bahan dan isi pelajaran,murid ( tanoa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu.
·         Karena guru mencampur adukkan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid.
·         Karena guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyeknya.

Pemfokusan Makna